Senin, 07 April 2008

Perselingkuhan Dalam Rumah Tangga

ELINGKUH merupakan salah satu faktor yang bisa menghancurkan mahligai rumah tangga. Bukan saja selingkuh cinta yang ditandai dengan hadirnya orang ketiga, keempat, atau kelima, selingkuh harta juga bisa menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Selingkuh harta yang dimaksud adalah pengeluaran yang dilakukan secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan pasangan. Baik itu untuk kesenangan pribadi seperti belanja berlebihan, entertaint klien atau teman menggunakan anggaran rumah tangga atau untuk kepentingan lainnya. Mengirimkan "ransum" bagi keluarga tanpa sepengetahuan pasangan juga bisa masuk kategori selingkuh harta. Walau sebenarnya tindakan ini bukan sesuatu yang buruk, tapi bila dilakukan secara diam-diam bisa dikategorikan sebagai sebuah perselingkuhan. Kondisi ini biasa terjadi pada orang yang merasa tidak enak hati pada pasangannya lantaran masih harus memenuhi kebutuhan keluarganya. Misalnya karena orang bersangkutan masih berperan sebagai tulang punggung keluarganya meski sudah menikah. Sebut saja karena harus membiayai kebutuhan hidup orangtua, membiayai sekolah adik-adiknya, dan sebagainya. Pengiriman uang secara diam-diam bisa juga karena pasangan kurang setuju bila anggaran keluarga yang ada harus dikurangi untuk "oranglain". Yang terjadi akhirnya, pasangan lebih suka mengirimkan uang kepada keluarganya tanpa sepengetahuan pasangan. "Sebetulnya masalah kirim-mengirim "ransum" tersebut bisa didiskusikan bersama, agar tidak sampai terjadi perselingkuhan. Kuncinya adalah keterbukaan dan saling percaya. Tentu saja saling percaya itu tidak terjadi begitu saja tapi harus dibuktikan," terang Lusiana, Pengamat Keuangan Keluarga Kota Batam. Misalnya menggunakan kartu kredit secara bertanggung jawab, tidak 'selingkuh' keuangan, dan sebagainya. Meski kesannya sepele, tapi bila dibiarkan berlanjut, ketidakterbukaan dalam pengeloaan uang ini bisa memicu perceraian antara suami istri. Perbedaan latar belakang maupun pola pikir pada pasangan tentunya membuka peluang terjadinya konflik dalam rumah tangga. Apalagi, pasangan yang sama-sama bekerja umumnya telah memiliki pola pengeluaran yang sudah menjadi gaya hidup sewaktu belum menikah. Pola keuangan yang sudah menetap ini memang agak sulit diubah. Sehingga mau tak mau harus dilakukan penyesuaian sehubungan dengan pola keuangan keluarga yang baru. "Disinilah dibutuhkan keterbukaan. Rumah tangga modern tak sekadar urusan ranjang dan dapur. Mengelola keuangan rumah tangga, mengelola investasi dari penghasilan pasangan suami-istri, membutuhkan perencanaan keuangan. Kunci keberhasilannya terletak pada komitmen, tanggung jawab dan kejujuran," terangnya. (ndy)
Bentuk Pos Anggaran Sendiri
*Pengeluaran untuk Keluarga Besar
DALAM proses perencanaan keuangan keluarga, asas keadilan tetap harus menjadi perhatian agar keharmonisan rumah tangga tetap terjalin. Adil dalam artian sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga, pembuatan anggaran kebutuhan rumah tangga secara adil melalui pos-pos pengeluaran sesuai kebutuhannya penting dilakukan. Pengeluaran untuk orangtua atau keluarga Anda masing-masing misalnya. Pengeluaran ini bisa dibicarakan untuk dibentuk dalam satu pos tersendiri. Sehingga, anggaran yang akan dikeluarkan memang benar-benar jelas jumlah dan arahnya. "Yang patut diingat jika pasangan Anda bersedia membantu kebutuhan keluarga Anda, jangan terlalu membebani pasangan dengan hutang atau kewajiban membiayai kebutuhan keluarga Anda secara berlebihan," jelas Lusiana, Pengamat Keuangan Keluarga Kota Batam. Sebab, bagaimanapun juga kita tetap harus menjaga kemampuan dan perasaan pasangan. Bersikaplah "adil" dengan pihak keluarga pasangan Anda juga. Jangan bersikap terlalu terbuka dan pemurah kepada keluarga sendiri secara berlebihan. Apalagi bila akhirnya berpotensi menjadi pencetus konflik suami-istri bahkan merebak menjadi konflik keluarga. Hal lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan dalam pengaturan pos anggaran keluarga adalah tetap menghargai kebutuhan pasangan akan privacy-nya. Misalnya hargailah keinginan pasangan untuk tetap menyimpan sejumlah uang untuk kebutuhan pribadinya maupun hobinya. Begitu pula sebaliknya, jangan ragu mengutarakan keinginan Anda kepada pasangan Anda. (ndy)
Sesekali Boleh Bertukar Peran
MEMBUAT perencanaan keuangan keluarga bukan sesuatu yang mudah. Tapi bukan sesuatu yang sulit juga. Sebab, bila pasangan saling terbuka dan mengungkapkan apa yang menjadi kecemasan dan masalah yang mengganggu pikiran masing-masing, terjadinya selingkuh harta bisa dihindari. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mencoba memberi dan membuat penilaian menurut versi Anda. Selanjutnya beri kesempatan bagi pasangan Anda untuk mengutarakan apa yang diinginkan menurut versinya. Disinilah kedua pasangan dapat menyusun bersama anggaran rumah tangga secara transparan bernegosiasi dan berkomitmen untuk melaksanakan segala rencara yang ada hubungannya dengan uang. "Jika dalam rumah tangga hanya suami atau istri saja yang bekerja, maka dibutuhkan kebijaksanaan yang ekstra untuk meyakinkan dan menjelaskan pada pasangan mengenai pos pengeluaran keluarga," terang Lusiana, pengamat keuangan keluarga Kota Batam. Bila salah satu pasangan terlalu cerewet, mengatur atau dominan atas pasangannya, tak hanya akan muncul selingkuh cinta, tapi selingkuh harta pun bisa terjadi. Misalnya suami atau istri menyembunyikan pendapatan, atau bisa juga diam-diam mengeluarkan dan mengumpulkan uang tanpa setahu pasangannya. Dan kondisi ini bisa saja berujung pada perceraian. Sebagai langkah memperkuat rasa percaya dan keterbukaan antar pasangan, sesekali boleh dilakukan pertukaran peran dalam hal pengaturan keuangan keluarga. Misalnya jika biasanya istri yang berperan mengatur keuangan keluarga harian, sesekali boleh dialihkan untuk dikelola suami. Begitu pula sebaliknya. "Melalui pertukaran peran ini, pasangan akan mengetahui dan memahami kenaikan harga barang kebutuhan yang semakin tinggi. Pasangan juga akan bisa memahami kesulitan mengatur anggaran terbatas untuk kebutuhan yang sangat besar. Dengan cara ini diharapkan pasangan akan dapat saling memahami, menghargai dan men-support pasangannya masing-masing dalam pengaturan keuangan rumah tangga," ungkapnya. Hal penting lain yang bisa dilakukan agar terhindar dari selingkuh harta adalah saling memahami arti uang bagi pasangannya masing-masing. Misalnya dengan mempelajari latar belakang kehidupannya semasa single atau latar belakang kehidupan keluarganya. (ndy)

Selingkuh Penghancur Rumah Tangga

Setiap pasangan suami istri menginginkan rumah tangganya langgeng dan berlangsung terus sampai tua atau maut hadir memisahkan, setiap pasangan yang mengikrarkan akad pernikahan pasti menanamkan tekad tersebut, maka dalam batas-batas tertentu tidak keliru kalau ada yang berkata, menikah sekali seumur hidup, sebagai ungkapan tekad mempertahankannya sekuat daya dan upaya agar ia tidak bubar di tengah jalan. Akan tetapi dalam perjalanannya pernikahan bukanlah tanpa tantangan dan rintangan, kata orang, pernikahan adalah sampan yang berlabuh di lautan, ia tidak mungkin terbebas dari hantaman ombak dan terpaan angin, jika penumpang sampan mampu mengatasinya dengan baik niscaya sampan akan sampai di pulau seberang dan yang ada di atasnya selamat, begitulah perumpamaan pernikahan.

Ombak dan angin besar yang bisa menenggelamkan sampan pernikahan dan terbukti melalui penelitian dan pengamatan bahwa ia pemicu tertinggi dan nomor wahid bagi karamnya perahu perkawinan adalah ketika pasangan ‘melirik’ orang lain, tatkala pasangan termakan kata-kata, ‘rumput tetangga lebih hijau’. Karena lebih hijau ia lebih sedap dipandang dan lebih menyejukkan mata. Kata-kata dari orang-orang yang hatinya dibalut dengan penyakit syahwat yang kotor.

Inilah selingkuh yang dalam kamus agama Islam dikenal dengan zina. Anda mungkin berkata, kami tidak melakukan, kami tidak berbuat, kami hanya sekedar tertarik, saling pandang, berbicara, curhat, kami sekedar berteman akrab, jalan bareng, makan bareng, saling mengunjungi, saling bergurau dan bercerita, saling…. Dan seterusnya. Kepada Anda saya katakan, jika Anda telah bersuami atau beristri maka itulah selingkuh. Cobalah renungkan hadits Nabi saw berikut ini.

“Dicatat atas Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia mendapatkanya tidak mungkin tidak, maka dua mata zinanya adalah memandang, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, dua kaki zinanya adalah melangkah, dan hati menginginkan dan mendambakan, hal itu dibenarkan oleh kemaluan atau didustakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Karena telah terbukti bahwa selingkuh yang sama dengan zina merupakan kapak terbesar yang merobohkan dan meruntuhkan bangunan rumah tangga, hal itu karena siapapun yang masih memiliki fitrah yang lurus pasti menolak dan melepehnya bahkan pelaku zina itu sendiri. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah berkata, Seorang anak muda datang kepada Nabi saw, dia berkata, “Ya Rasulullah, izinkanlah aku berzina.” Maka orang-orang berkumpul di sekelilingnya, mereka menghardiknya, mereka berkata, “Diamlah kamu, diamlah kamu.” Nabi saw bersabda, “Dekatkanlah dia ke mari.” Maka anak muda itu didekatkan, Nabi saw bersabda, “Duduklah,” Anak muda tersebut duduk. Nabi bertanya, “Apakah kamu menyukai zina untuk ibumu?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah, aku korbankan diriku untukmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukainya untuk ibu mereka.” Nabi bertanya, “Apakah kamu menyukai zina untuk putrimu?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah, aku korbankan diriku untukmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukainya untuk putri mereka.” Nabi bertanya, “Apakah kamu menyukai zina untuk saudara perempuanmu?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah, aku korbankan diriku untukmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukainya untuk saudara perempuan mereka.” Nabi bertanya, “Apakah kamu menyukai zina untuk bibimu dari bapakmu?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah, aku korbankan diriku untukmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukainya untuk bibi dari bapak mereka.” Nabi bertanya, “Apakah kamu menyukai zina untuk bibi dari ibumu?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah, aku korbankan diriku untukmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukainya untuk bibi dari ibu mereka.” Lalu Nabi saw meletakkan tanganya di atasnya sambil bersabda, “Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan jagalah kehormatannya.” Dia berkata, “Setelah itu anak muda tersebut tidak melirik kepada apa pun.

Hal yang sama berlaku untuk suami istri karena jika tidak maka suami manapun yang berfitrah lurus ketika ditanya, Apakah kamu rela istrimu berzina? Jawabannya bisa dipastikan, hal yang sama pada istri, jika dia ditanya dengan pertanyaan yang sama niscaya jawabannya pastilah sama. Lebih dari itu fitrah yang lurus juga akan menolak ketika misalnya ia dijodohkan dan disandingkan dengan pelaku dosa ini.

Firman Allah, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (An-Nur: 3).

Firman Allah, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu), bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (An-Nur: 26).

Karena selingkuh alias zina merupakan penghancur rumah tangga dalam urutan teratas maka maka Islam mengharamkannya demi menjaga kelangsungan dan keberadaannya termasuk perantara-perantara dan wasilah-wasilahnya.

Firman Allah, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra`: 32).

Ibnu Katsir berkata, “Allah berfirman melarang hamba-hambaNya dari zina dan mendekatinya yakni melakukan sebab-sebabnya dan pemicu-pemicunya.”

Ibnu Sa’di berkata, “Larangan mendekatinya lebih mendalam daripada larangan melakukannya, karena hal itu mencakup larangan terhadap semua pengantar dan penyebabnya.”

Ibnu Utsaimin berkata, “Ayat ini menunjukkkan bahwa kita wajib meninggalkan segala sesuatu yang membawa kepada zina, baik zina kelamin dan inilah yang paling besar atau selainnya.”

Islam adalah yang terbaik tatanan dan aturannya termasuk dalam masalah hubungan laki-laki dengan perempuan. Islam meletakkan kode etik yang beradab dalam hal ini yang tidak dimiliki oleh aturan dan tatanan manapun di dunia ini. Semua itu demi kebaikan dan kesucian masyarakat termasuk rumah tangga. Penulis akan kembali lagi untuk melanjutkan pembicaraan ini.


Perselingkuhan dalam Rumah Tangga, Salah Siapa?

AJARAN agama mana pun di dunia ini, pasti tak ada yang membenarkan perselingkuhan dalam rumah tangga. Begitupun dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, pasti memandang negatif perselingkuhan, termasuk di negara-negara Barat sekalipun, yang terkenal dengan sekulerisme dan hedonismenya. Pernikahan, benar-benar dianggap sebuah “wadah” yang harus steril dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi mutlak 100% bagi pasangan suami-istri, tak peduli berapa pun umur pernikahannya, dan bagaimanapun kondisi pernikahannya.

selingkuhAkan tetapi, realitas hidup di masyarakat berkata lain. Tanpa perlu data statistik yang resmi dan valid, kita pasti tahu betapa mudahnya perselingkuhan dalam rumah tangga terjadi di masyarakat kita. Kita tak perlu menonton sinetron, telenovela, atau infotainment di televisi untuk bisa menyaksikan perselingkuhan, karena hal itu bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di depan mata kita. Perselingkuhan bisa dilakukan oleh tetangga kita, kerabat kita, saudara kita, teman kita, teman kerja kita, atasan kita, guru/dosen kita, sahabat dekat kita, orang tua kita, saudara kandung kita, atau bahkan kita sendiri.

Perselingkuhan, dengan atau tanpa hubungan seks, meskipun jelas-jelas haram menurut agama dan dicap buruk oleh masyarakat, pada kenyataannya begitu mudah untuk ditemukan, bahkan untuk dilakukan. Perselingkuhan pun bukan menjadi monopoli pihak tertentu. Perselingkuhan tak kenal status sosial, tingkat pendidikan, jabatan, bidang profesi, domisili, bahkan gender. Kemajuan media massa dan teknologi semakin memperparah “mewabahnya” perselingkuhan. Istilah SII (selingkuh itu indah) seolah menjadikan perselingkuhan sebagai tren yang populer di masyarakat. Kalau kenyataannya seperti itu, kita jadi bertanya-tanya, ada apa di balik semua ini? Apa yang salah? Dan… siapa yang salah?

Dipandang dari sudut agama, maraknya perselingkuhan bisa dianggap sebagai indikasi menipisnya keimanan dan ketakwaan masyarakat kita, yang katanya “masyarakat religius”. Di zaman globalisasi seperti sekarang ini, memang hal-hal yang bersifat religi sering “terbenamkan” oleh hal-hal duniawi. Tapi ternyata, permasalahannya tidak sesederhana itu. Masalah perselingkuhan dalam rumah tangga adalah masalah yang sangat kompleks dan pelik, meski kita “biasa” mendengarnya. Kita harus benar-benar berpikir secara jernih, objektif, proporsional dan bijak dalam melihat masalah ini.

Memang ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi. Tapi yang jelas, kita tak bisa “menghakimi” media massa dan teknologi sebagai pihak yang salah. Karena meskipun media massa melalui televisi begitu rajin menyuguhkan acara-acara sinetron, telenovela dan infotainment yang menceritakan tentang perselingkuhan, dan juga koran/tabloid yang juga rajin memuat berita atau cerita tentang perselingkuhan, yang bisa saja menjadi “contoh” dan “inspirasi” yang tidak baik kepada penonton dan pembacanya, tapi media massa hanyalah mengangkat potret masyarakat kita yang sebenarnya, dan bukan didasarkan pada imajinasi semata ataupun sebuah propaganda. Sedangkan teknologi, meskipun menghasilkan HP dengan segala fasilitasnya, dan juga internet dengan segala fasilitasnya yang menjadi booming di masyarakat kita bisa dijadikan “sarana” dan “media” selingkuh yang mudah, cepat, efisien, dan efektif, tapi teknologi hanyalah “alat bantu” manusia. Segala manfaat dan mudaratnya sangat bergantung pada manusia sebagai subjek.

Secara simpel tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga berkaitan langsung dengan pasutri yang bersangkutan. Salah satu pihak pasutri yang berselingkuh pastilah dianggap sebagai pihak yang salah. Akan tetapi, tanpa bermaksud “membela” pihak “peselingkuh” tersebut, kita juga harus bisa melihat dan menilai secara objektif dan proporsional apa “latar belakang” dan “penyebab” orang tersebut melakukan perselingkuhan. Kita tak bisa memberi cap “peselingkuh” tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit “peselingkuh” tersebut termasuk tipe suami/istri yang orang “baik-baik”, cukup taat beribadah, dan bukan tipe orang yang “gatel”, yang senangnya kelayapan dan lihai mencari “mangsa”.

Ada banyak “motivasi” dan “latar belakang” pasutri melakukan perselingkuhan, yang sebenarnya hal tersebut merupakan indikator “ketidakberesan” di dalam rumah tangga mereka, walau sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk dan bervariasi yang dialami pasutri di dalam rumah tangga mereka merupakan faktor utama; mulai dari masalah ekonomi, masalah anak, masalah “keluarga besar” (bisa dari keluarga salah satu pihak/malah kedua belah pihak), masalah psikis, komunikasi yang buruk, tempat tinggal terpisah di kota yang berjauhan, masalah pekerjaan, perbedaan status sosial dan pendidikan yang mencolok, perbedaan persepsi dan idealisme yang mencolok, “terjebak” pada rutinitas, kejenuhan, masalah seksual, dan masih banyak lagi.

Semua masalah itu membuat rumah tangga pasutri mana pun menjadi rentan perselingkuhan, yang kalau dibiarkan begitu lama dan intens bisa menjadi bom waktu, yang sewaktu-waktu bisa “meledak” dan menghancurkan semua yang telah susah payah dibangun selama ini.

Kehadiran WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain), baik yang masih single, janda/duda, ataupun sama telah menikah, memang banyak dituding sabagai biang kerok terjadinya perselingkuhan di dalam rumah tangga. Tak sedikit istri yang langsung melabrak wanita selingkuhan suaminya, ataupun suami yang langsung ngamuk kepada pria selingkuhan istrinya, begitu mereka mengetahui perselingkuhan pasangannya. Tapi, benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada para WIL atau PIL? Kalau memang rumah tangga mereka “baik-baik” saja, dan pasangan mereka pun “baik-baik” saja, kenapa sampai bisa masuk “orang ketiga” di tengah-tengah mereka?

Kita tak bisa langsung memberi cap WIL atau PIL itu sebagai “wanita/pria penggoda”, home broker (perusak rumah tangga orang), orang brengsek, “gatel”, rendahan, tak bermoral, dsb. Karena meskipun banyak WIL atau PIL yang berkarateristik seperti itu, tapi tak sedikit juga WIL atau PIL itu yang orang “baik-baik”, cukup taat beribadah, berpendidikan, dan bukanlah tipe orang yang “liar” atau “binal”.

Selain itu, kita juga tak bisa menuduh “motivasi” mereka adalah materi ataupun faktor ekonomi. Karena meskipun banyak WIL atau PIL yang memang pangeretan dan materialistik, yang bisanya hanya memanfaatkan uang atau harta selingkuhannya, tapi tak sedikit pula WIL atau PIL yang “rela” berselingkuh dengan suami atau istri orang lain yang jelas-jelas kere, boke, ataupun miskin. Tapi kenapa mereka mau juga melakukan perselingkuhan itu? Jelas, “motivasi” mereka bukanlah faktor materi.

Mungkin bisa jadi mereka sedang mengalami krisis perhatian, kasih sayang, perlindungan, merasa benar-benar “kesepian”, kekosongan, benar-benar butuh “sandaran”, dan “teman berbagi”. Atau bisa jadi juga mereka menaruh suka, simpati, atau malah… jatuh hati. Bagaimana bila ternyata suami atau istri yang berselingkuh itu sama-sama jatuh hati, atau setidaknya sama-sama tertarik dengan WIL ataupun PIL-nya masing-masing? Bukankah itu adalah masalah yang substansial?

Tapi… bukankah perasaan “cinta” kepada orang yang bukan “pasangan sah” tidak akan tumbuh subur dan merajalela, apabila kita bisa memupuk dan merawat cinta kepada “pasangan sah” kita? Dan itu tentu saja harus dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan hanya salah satu pihak. Kesetiaan, kepercayaan, kejujuran, dan keterbukaan benar-benar harus menjadi “pilar” yang kokoh dalam berumah tangga, dan dilakukan oleh pasangan suami istri atas dasar keikhlasan, bukan karena “keharusan” dan “keterpaksaan” semata-mata.

Letak permasalahan topik ini bukan pada “siapa yang salah”, karena hal tersebut justru akan menjadi polemik yang berkepanjangan dan tak ada titik temu. Yang terpenting dalam masalah ini adalah, apa penyebab dan latar belakang terjadinya perselingkuhan dalam rumah tangga tersebut, dan bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikannya, yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang bersangkutan dan juga WIL/PIL-nya masing-masing, karena yang paling tahu persis permasalahannya dan yang mengalaminya langsung adalah mereka sendiri.

Seperti apa pun solusi yang mereka tempuh, atau seperti apa pun ending dari perselingkuhan tersebut, sepatutnyalah dilakukan dengan cara-cara yang bijak, dewasa, bermartabat dan untuk kebaikan semua. Bukan dengan cara-cara yang barbar, kekanak-kanakan, arogan, dan egoistis. Jangan sampai masalah perselingkuhan yang merupakan masalah “besar” dalam rumah tangga, menjadi semakin “besar” dan “melebar” ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya aib kita yang terekspos kepada umum, tapi juga masalah “inti”-nya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran, yang semakin menambah penderitaan, luka, dan air mata.***

Jumat, 16 Februari 2007 SEMARANG

Daripada Selingkuh, Boleh Poligami

Oleh Purwoko

PERSELINGKUHAN dalam kehidupan berumah tangga, bukan hal yang baru di kota-kota besar, seperti Kota Semarang. Konon, perbuatan tersebut dilakukan banyak orang. Namun di balik itu, selingkuh ternyata juga mengandung berbagai risiko.

Masalah selingkuh, poligami, dan video porno dalam keluarga itu, dibahas dalam dialog interaktif diadakan oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kelurahan Tlogosari Kulon di Balai Kota Semarang, Kamis (15/2).

Pembicara yaitu istri Wakil Wali Kota Ny Ria Mahfudz Ali, Psikolog Dra Hastaning Sakti Psi MKes, dan pakar hukum Unissula Dr Ir HM Ali Mansyur SH CN MHum.

Ali Mansyur mengatakan, kenapa orang berselingkuh. Ada dua faktor utama yakni, internal dan eksternal. Faktor internal meliputi ketidakharmonisan pasangan dalam berumah tangga, iman rendah, ada kesempatan, dan kurang pengendalian diri. Sedangkan faktor eksternal, meliputi lingkungan masyarakat dan keluarga, serta ketidaktegasan aturan hukum.

Perselingkuhan itu baru bisa diproses secara hukum, setelah salah satu pihak melaporkan kepada penegak hukum. ”Perselingkuhan itu merupakan delik aduan,” kata dia.

Menurut dia, daripada berselingkuh, ada cara lain yang diperbolehkan agama yaitu poligami. ”Poligami memang diperbolehkan oleh agama, sepanjang memenuhi alasan dan syariat.”

Alasan poligami yang bisa diterima, jelas dia, adalah karena istri sakit dan tidak mungkin disembuhkan. Selain itu, istri tidak bisa memberikan keturunan, dan istri tidak dapat melaksanakan kewajibannya.

Hastaning Sakti berpendapat, selingkuh itu menyenangkan dan pelakunya cenderung untuk mengulangi lagi. Namun dia mengingatkan, pelaku selingkuh dan seks bebas akan menghadapi berbagai risiko. Dia menyebut beberapa, antara lain ancaman penyakit menular seksual, AIDS, dan penyakit organ reproduksi.

Ketua LPMK Telogosari Kulon, Drs Sumarno FS menyatakan prihatin dengan maraknya perselingkuhan yang mengancam keharmonisan berumah tangga. (56)

Selingkuh Penghancur Rumah Tangga (2)

ImageSelingkuh alias berzina adalah penyakit kotor dan kanker ganas yang merobohkan tatanan mulia masyarakat yaitu pernikahan, berapa banyak rumah tangga berantakan, berapa banyak istri yang menuntut talak, berapa banyak suami yang menceraikan, berapa kali bapak hakim di pengadilan agama mengetok palu talak, berapa banyak anak-anak terpisah dari pengasuhan bapak ibunya, berapa banyak hubungan baik yang terjalin di antara keluarga suami dengan keluarga istri terputus dan berbalik menjadi hubungan buruk, biang kerok dan kambing hitam terbesar dalam semua itu adalah penyakit ini.

Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan dan keluhuran, membenci dan memerangi kerendahan dan kebinatangan tingkah laku, telah meletakkan langkah-langkah preventif yang jika dilaksanakan dengan baik akan mengeliminir dan menyisihkan penyakit buruk ini.

Pertama: Islam memerintahkan wanita-wanita muslimah berjilbab di hadapan laki-laki yang bukan mahram sebagai tindakan antisipatif terhadap kemungkinan jahat terhadap dirinya, dengan jilbabnya seorang wanita muslimah dikenal sehingga laki-laki dengan jiwa kotor tidak lagi berharap bisa meraih impiannya darinya.

Firman Allah, “Hai nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59)

Kedua: Di samping Islam mengajak para wanita muslimah agar melindungi diri dengan pakaian yang syar’i, Islam juga mendorong mereka agar melindungi diri dengan berdiam diri di rumah, tidak meninggalkan pos tersebut kecuali untuk kepentingan yang mendesak, sebab bagaimanapun rumah adalah tempat terbaik bagi muslimah, di samping sebagai pelindung, rumah juga sebagai ajang ibadah-ibadah besar lagi mulia bagi seorang muslimah.

Firman Allah, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)

Ketiga: Islam melarang wanita berbicara dengan suara yang dibuat-buat dan dilembut-lembutkan sebab hal itu bisa memancing orang yang berhati busuk untuk berharap sesuatu darinya.

Firman Allah, “Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah adab yang Allah perintahkan kepada istri-istri Nabi saw dan wanita-wanita umat mengikuti mereka dalam hal ini… Artinya bahwa dia berbicara dengan orang asing dengan ucapan yang tidak mengandung kelemah-lembutan yakni seorang wanita tidak berbicara dengan laki-laki asing seperti dia berbicara kepada suaminya.

Keempat: Islam mengajarkan kaum muslimin jika mereka mempunyai hajat kepada istri-istri Nabi saw agar mereka menyampaikannya dari balik tabir, dan perkara ini bukan kekhususan, akan tetapi para wanita muslimah dalam perkara ini mengikuti para istri Nabi saw. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersihan hati masing-masing.

Firman Allah, “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Kelima: Islam mengajak para wanita muslimah bersikap sopan dan tidak melakukan sesuatu yang bisa menggoda laki-laki, salah satunya adalah dengan memperlihatkan perhiasannya dihadapan orang yang mana dia dilarang menampakkannya kepadanya.

Firman Allah, “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan, dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31)

Termasuk dalam hal ini jika seorang wanita berdandan atau berparfum bukan untuk suaminya akan tetapi demi orang lain, agar orang-orang melihatnya cantik dan mencium bau harum parfumnya, perbuatan wanita seperti ini dilarang, ia tergolong zina.

Dari Abu Musa dari Nabi saw bersabda, “Setiap mata berzina, apabila seorang wanita memakai wewangian lalu dia melewati suatu majlis, maka dia adalah begini begini.” Yakni pezina. (HR. at-Tirmidzi dan dia berkata, “Hasan shahih.” Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan an-Nasa`i).

Keenam: Islam mengajarkan kaum muslimin agar menjaga dan menundukkan pandangan, karena pandangan adalah jendela hati, apa yang terbetik dalam hati biasanya bermula dari mata. Apabila seseorang tidak menundukkan pandangannya maka ia akan melihat apa yang semestinya tidak patut untuk dilihat dan itu akan berpengaruh kepada hatinya bahkan bisa mengotorinya.

Firman Allah, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. ”Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya.” (An-Nur: 30-31)

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah perintah dari Allah Taala kepada hamba-hambaNya yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dari apa yang Allah haramkan, mereka jangan melihat kecuali kepada apa yang Allah perbolehkan untuk dilihat. Hendaknya mereka memalingkan pandangan dari perkara-perkara yang diharamkan.”

Dari Jarir bin Abdullah berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang penglihatan yang tiba-tiba, beliau bersabda, “Palingkanlah pandanganmu.” (HR. Muslim).

Dari Abu Said al-Khudri dari Nabi saw bersabda, “Hindarilah duduk di jalanan.” Mereka berkata, “Ya Rasulullah, kami sulit menghindarinya karena itu adalah lahan kami berbicang-bincang.” Nabi saw bersabda, “Jika kalian menolak kecuali duduk maka berikanlah jalan itu haknya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu hak jalan?” Nabi saw bersabda, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan sesuatu yang mengganggu, menjawab salam, beramar ma’ruf dan bernahi mungkar.”(Muttafaq Alaihi). Wallahu a'lam.




TERAPI KETUK

Sembuhkan Suami Selingkuh

Minggu, 21 Mei 2006

Masalah perselingkungan kuat mewarnai kehidupan keluarga di kota-kota besar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Malah kini ada istilah yang lebih manis, yang dipopulerkan oleh duo Ratu, yaitu teman tetapi mesra (TTM), untuk perselingkungan itu.

Selingkuh sebenarnya tidak lagi didominasi kaum laki-laki berisitri, tetapi juga kaum perempuannya. Namun, bila dilihat dari jumlahnya, kasus perselingkungan masih banyak terjadi di kalangan kaum adam.

Melihat makin maraknya perselingkuhan, tak ada salahnya bagi Anda, kaum perempuan untuk lebih mewaspadai tindak tanduk para suami di luar suami. Apalagi akhir-akhir ini suami kerap tampil lebih rapi dan wangi. Bukan tak mungkin, suami diam-diam memiliki TTM loh!

Bila kondisinya demikian, banyak cara untuk mengatasi masalah perselingkungan yang terjadi pada suami atau istri Anda. Salah satu cara yang alternatif adalah lewat “terapi ketuk” atau dikenal dengan S-EFT (Spiritual Emotional Freedom Technique).

Penyembuhan kasus selingkuh itu terungkap dalam sesi testimoni pada acara workshop terapi ketuk yang dipandu oleh pengembangan S-EFT yang juga seorang psikolog, Ahmad Faiz Zainuddin, SPsi, di Surabaya, Sabtu (20/5).

Pada workshop itu, Syamsul Arief, aktivis organisasi buruh di Surabaya yang juga alumni dari pelatihan S-EFT, menceritakan pengalaman anak buahnya yang berhasil mengobati seorang suami yang sering mabuk dan sering berselingkuh.

“Kebetulan teman-teman buruh banyak yang mengikuti workshop S-EFT dan kemudian dipraktekkan pada tetangganya. Ada seorang diantara peserta workshop, sebut saja namanya Santi, yang sering menerima keluhan dari temannya karena suaminya suka berselingkuh dan tidak pernah memperhatikan dirinya,” kata Syamsul Arief.

Mendapatkan keluhan seperti itu, Santi melakukan penyembuhan dengan S-EFT di rumahnya. Santi terkejut karena esok harinya ia mendapatkan cerita dari temannya bahwa suaminya justru menyebut-nyebut nama Santi.

Mendengar cerita itu, Santi malah ketakutan dan kemudian melaporkan kenyataan itu ke Syamsul. Syamsul kemudian mengingatkan Santi agar prosedur terapi dengan S-EFT itu diperbaiki kembali.

“Setelah itu dia memperbaiki prosedur dan beberapa hari dilakukan terapi itu, ternyata, suami dari temannya Santi itu sembuh, bahkan kemudian menangis-nangis meminta maaf kepada si isteri atas kesalahannya selama ini,” katanya.

Mendengar cerita seperti itu, Faiz yang alumni Fakultas Psikologi Unair dan kini menempuh S2 di sebuah universitas di Malaysia itu mengemukakan, dirinya baru menemukan kasus baru, yakni S-EFT digunakan untuk mengatasi masalah perselingkuhan.

“Memang sesuai dengan ilmu yang saya peroleh dari buku maupun belajar langsung dari pakar psikologi, S-EFT ini bisa untuk dicobakan dalam kasus apa saja,” katanya.

Ia mengemukakan, metode yang dikembangkan oleh S-EFT sangat ilmiah karena pada dasarnya sama dengan akupresur, hanya yang disentuh adalah syaraf-syaraf yang berkaitan dengan kejiwaan.

“Jadi S-EFT ini bisa untuk mengatasi masalah kejiwaan, seperti trauma, stres atau masalah-masalah lain yang banyak dihadapi masyarakat modern sekarang. Terapi dengan S-EFT relatif lebih cepat karena hanya membutuhkan beberapa menit dibandingkan dengan terapi pasikologi konvensional yang butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan,” katanya.

Kasus lain yang bisa disembuhkan dengan S-EFT adalah, takut pada hewan tertentu, depresi, cemas, kecanduan rokok, kesulitan belajar, kecanduan narkotika dan berbagai kesulitan lainnya yang berkaitan dengan kejiwaan.

Menurut dia, metode terapi yang dilakukan S-EFT adalah dengan cara mengetuk-ngetuk beberapa bagian syaraf tubuh tertentu selama sekitar lima menit. Semua masyarakat bisa mempelajari metode itu karena prosedurnya sangat mudah.

“Kami memadukan ilmu psikologi modern dengan kekuatan doa dan kepasrahan kepada Allah. Sudah banyak penelitian yang dilakukan oleh pakar psikologi dan kedokteran di Barat mengenai kekuatan doa untuk penyembuhan. Sekarang fakultas kedokteran di 80 perguruan tinggi di negara-negara barat bahkan sudah mengajarkan kuliah tentang doa,” ungkapnya.

Salah satu hasil penelitian yang menggemparkan dunia adalah yang dilakukan oleh Larry Dossey MD, seorang dokter ahli penyakit dalam. Penelian Dossey menunjukkan bahwa doa dan spiritualitas terbukti secara ilmiah memiliki kekuatan yang sama besar dengan pengobatan dan pembedahan.

“Melalui terapi ketuk ini, para peserta diajarkan metode akupresur tetapi juga doa-doa yang tidak saja bisa menyembuhkan tetapi juga menguatkan cinta pasangan suami istri,” kata Achmad Faiz Zainuddin.

Istri Minta Cerai, Tp Istri Punya Selingkuhan

Jumat, 10 Mar 06 15:45 WIB

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya Seorang suami 28 thn, dan istri saya 25 thn.

Langsung saja, keluarga kami dalam ambang perceraian. Kasusnya adalah masalah ekonomi.

Istri saya saat ini sedang bekerja di salah satu perusahaan swasta, dan saya saat ini belum diberikan kesempatan untuk bekerja. Istri yang saya nikahi adalah janda beranak satu (perempuan). Saya menikah dengannya dan dikaruniai 1 anak (laki). Terakhir, komunikasi antara saya dan istri saya mulai jarang dan entah kenapa sebabnya (mungkin karena istri saya bekerja dan saya belum bekerja).

Hanya karena istri saya pada malam tahun baru tidak pulang dan tanpa khabar, saya khilaf dan marah. Alasan istri saya adalah ada urusan tahun baruan (2006) dengan kawan-kawan dan client istri saya, tapi feeling saya mengatakan lain. Saya yakin bahwa istri saya selingkuh. Memang saya belum dpt membuktikannya, tapi atas pengakuan salah satu temannya, dia bilang kalau istri saya punya pacar laki-laki lain. Kebetulan saya bisa mengetahui posisi istri saya melalui kecanggihan teknologi. Karena istri saya sering pulang malam, diam-diam saya coba membuntutinya. Saat ini target sudah saya dapatkan (nama, alamat, telp, dll.) hanya tinggal waktu saja saat mereka sedang berhubungan badan rencananya akan saya pergoki dengan warga sekitar dan polisi (Apakah saya salah melakukan ini?) sebab istri saya sering berada di lokasi tersebut.

Jujur saja, sebenarnya saya tidak menginginkan perceraian karena yang saya tahu, bahwa perceraian itu memang dihalalkan oleh Allah, tapi dibenci oleh-Nya juga. Apakah ada jalan lain untuk membuat istri saya kapok? Bagaimana status anak-anak, apabila kami bercerai apakah anak-anak akan ikut saya atau istri saya? Alasan lain saya tidak ingin menceraikan istri saya karena saya masih mencintainya walaupun istri saya sudah selingkuh. Dan alasan lainnya, kasihan dengan anak-anak. Bagaimana caranya yang terbaik untuk menasihati istri saya?

Lalu (pertanyaan ini sepertinya agak kurang rasional dan sedikit pemaksaan) sebenarnya, membuat istri saya kembali lagi dengan cara alternatif seperti putar giling, pelet, dan cara-cara ghoib/spiritual lainnya dengan "orang pinter" itu menurut hukum Islam bagaimana, disahkan/halalkan atau tidak? Tujuan saya adalah mengutuhkan rumah tangga kami yang sudah retak ini agar bisa menjadi satu lagi.

Untuk informasi, saat ini saya sudah 2 bulan lebih pisah ranjang. Karena saya belum bekerja, saya juga belum dapat memberikan nafkah materi, bagaimana ini? Bagaimana caranya untuk menyelamatkan keluarga saya dari perceraian? Mohon jawabannya dengan segera, karena waktu saya sudah sangat tipis sekali.

Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jawaban

Assalammu'alaikum wr.wb.

Bapak E yang baik,

Nampaknya bapak merasa bingung atas permasalahan yang menimpa rumah tangga bapak. Tentu berat sekali rasanya menerima kenyataan bahwa istri yang masih dicintai telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Ini merupakan kenyataan yang menyakitkan bagi siapapun, namun meski hati terasa panas berusahalah tetap menjaga kepala agar tetap dingin sehingga dapat berhati-hati menentukan penyelesaian masalah.

Alhamdulillah kelihatannya bapak masih sangat mencintai istri dan ingin agar rumah tangga ini tetap utuh. Dan bapak sepertinya sudah memiliki beberapa alternatif pilihan untuk membuat istri kembali kepada bapak. Namun rasanya alternatif solusi yang bapak pikirkan dipengaruhi oleh kondisi emosi bapak yang sedang meninggi.

Cara yang bapak pikirkan yaitu dengan memergoki ataupun dengan jalan pelet memang bisa saja membuat istri tidak lagi berselingkuh atau kembali kepada bapak, tindakan tersebut memang efektif untuk jangka pendek namun akan sangat merusak untuk jangka panjang bagi rumah tangga bapak. Karena bapak merubah perilaku istri bukan dengan kesadaran yang datang dari dalam dirinya namun melalui paksaan.

Di mana paksaan itu tidak hanya menimbulkan trauma yang dalam bagi istri namun juga dapat merusak kehormatannya bahkan mencemarkan nama baik keluarga. Dan yang lebih parah lagi jika menggunakan pelet maka berartidapat merusak aqidah bapak dan keluarga karena cara itu jelas diharamkan dalam agama Islam.

Oleh karena itu saya menyarankan agar bapak dapat mencari solusi lain yang lebih santun dan diridhoi oleh agama. Mungkin hasilnya tidak akan terlihat secepat jalan yang sudah bapak pikirkan sebelumnya, namun insya Allah lebih permanent sifatnya untuk kebaikan rumah tangga bapak ke depan

Salah satu alternatif yang bisa saya tawarkan adalah melalui komunikasi yng terbuka dengan istri. Nampaknya salah satu masalah bapak adalah komunikasi dengan istri, maka ajaklah ia agar termotivasi untuk melakukan perbaikan dalam komunikasi suami-istri.

Bujuklah istri untuk mencari solusi dari permasalahan pernikahan ini sebelum menentukan langkah cerai. Karenaumumnya pakperselingkuhan hanyalah dampak dari masalah yang tak terselesaikan dalam rumah tangga.Jika kesulitan menyelesaikan berdua maka bapak dapat mengusulkan menghadirkan pihak ketiga yang netral dan dapat diterima juga oleh istri. Pihak ketiga dapat dari keluarga, Ustadz ataupun konselor pernikahan.

Selain itu cobalah untuk meningkatkan keimanan bapak dan motivasi istri untuk lebih dekat juga kepada Allah melalui ibadah-ibadah sunnah atau hadiri pengajian untuk perdalam keimanan dan menambah wawasan. Melalui doa dan usaha baik yang bapak lakukan maka Insya Allah akan Allah tunjukkan jalan terbaik bagi diri bapak sekeluarga. Demikian yang dapat saya sarankan semoga dapat memberi pencerahan bagi diri bapak.

Wassalammu'alaikum wr. wb.

Rr. Anita W.



Selingkuh vs Poligami

Baru sempet nulis lagi, bulan Ramadhan ini kegiatan lebih padet dari bulan2 lainnya. Tapi nikmat banget, dari tahun 2003 mulai puasa, gua ngerasa Ramadhan tahun ini yang paling nikmat. Kenapa? Soalnya Ramadhan tahun ini gua mulai puasa lagi, back to tahun lalu, gua full gak puasa karena pas Ramadhan pas lahiran Yusuf, jadi nifas full di bulan Ramadhan, sampai gak bisa Sholat Ied juga (waktu itu kita di Balikpapan). Trus nikmat banget ngejalanin Ramadhan sama orang2 yang kita cintai, terutama suami n anakku Yusuf. Juga nikmat pertama Ramadhan di tempat baru, di Garut. Kegiatan ke Islamannya jalan banget di sini, salah satunya gua ber kesempetan tadarus bersama Ibu2 warga sekitar komplex untuk pertama kalinya di sini. Alhamdulilah kita sudah khatam Jumat minggu lalu.

Tapi rupanya di samping kebahagia-an yang gua rasain bersama keluarga, ada orang2 di dekat gua yang justru lagi sedih. Kebetulan 2 wanita yg lagi sedih itu adalah orang2 yg dekat dengan gua. 2 wanita itu mengalami musibah/cobaan dari Allah yg sama, yaitu suami2 mereka selingkuh. Mungkin bagi mereka ketika mengetahui suami mereka selingkuh rasanya bagaikan disambar petir dan ngerasa sakit hati banget. 2 wanita tersebut ternyata finally mengambil keputusan yg berbeda...Yang 1, sebut aja Mbak A, berusaha sekuat tenaga mempertahankan rumah tangganya, (dia sudah punya 3 anak), sehingga salah satu jalan yg ditempuh adalah pergi (dalam hal ini pindah sekeluarga) ke tempat yang jauh dari si WIL suaminya... Entah apakah saat ini rumah tangga mereka sudah kembali tenang atau belum. Wanita yg ke2, sebut saja Mbak B, tidak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya selingkuh (dari perkawinan mereka tidak dikaruniai anak), dan segera menuntut cerai ke Pengadilan Agama dan sudah beres beberapa minggu lalu. Kemudian si Mbak B pergi dari tempat dia tinggal tersebut.

Salah satu dari suami Mbak2 tersebut bilang kalo jangan cerai, tapi poligami aja, yg dengan mentah2 ditolak oleh si Mbak. Dengan kejadian tersebut gua jadi ngerenung beberapa hal. Yang pertama masalah selingkuh. Selingkuh sendiri jelas dilarang keras dalam agama Islam, dan merupakan dosa. Apalagi selingkuh yang dilanjutkan dengan zina, kalau zaman Rosul dengan syariat Islamnya, mereka pelaku zina harus dirajam sampai mati. Kemudian masalah pernikahan/berumahtangga itu sendiri. Allah SWT sendiri menyatakan di dalam Al Quran s Ar-Ruum 21 bahwa pernikahan antara pria dan wanita itu supaya tercipta ketenteraman , rasa kasih dan sayang. Juga nambahin hadits dari Muslim no 2668 bahwa : Sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.

Hal lain yg gua pikirkan adalah mengenai Poligami. Terus terang, sebelum jadi seorang Muslimah, Poligami jadi salah satu hal yg dijadikan umat Non Muslim untuk menyerang umat Muslim, dan apalagi sebagai wanita, gua takut banget n gak kebayang bagaimana kalau di Poligami. Sehingga dalam proses gua belajar agama Islam, hingga saat ini gua selalu ingin terus mendalami hal ini. Dalam salah satu diskusi di Al Azhar dengan guru gua waktu itu, gua setuju dengan pemikiran Ustadzah guru gua, bahwa Poligami itu ada dan dibolehkan (tapi bukan Sunnah, tidak pula dianjurkan) oleh Allah, sebagai salah satu solusi akan sekian permasalahan manusia, yang tentu saja jika dilakukan akan menambah kebaikan/kemaslahatan dalam kehidupan manusia, bukan sebaliknya.

Sebagai contoh Poligami Rasullullah, mungkin gak perlu dipaparkan lagi bahwa istri2 Rasul adalah janda2, kecuali Aisyah. Rasul menikahi mereka tujuannya satu adalah untuk SYIAR ISLAM. Jadi singkatnya, kalau dengan poligami yang terjadi adalah rumah tangga dengan si istri tua jadi gak tenang / gak sakinah mawaddah dan rohmah lagi, jadi tujuan mulia pernikahan yg disebut Allah tidak tercapai. So siapa yang salah, manusianya / hukum Poligaminya?

Kemaren sempet rame masalah Poligami Aa Gym, juga Pak Puspo (yg punya Wong Solo). Kebetulan gua kenal dengan Mbak Rini, istri pertama Pak Puspo waktu gua di Medan dulu. Sayang gua gak sempet ngobrol banyak sama Mbak Rini masalah poligaminya, mungkin suatu saat nanti. Gua ngelihat kasus Poligami 2 public figure tersebut dengan netral aja, karena gua gak berhak nge-judge mereka, karena yang tahu, yang ngejalanin , yang ngerasain rumah tangga adalah mereka sendiri.

Back ke kasus si Mbak yang menolak dipoligami. Gua pikir hal yang wajar banget dia nolak n memilih cerai. Karena proses si mantan suaminya mendapatkan calon istri kedua bukan lewat cara2 Islami, malah lewat cara maksiat. Dan si Mbak udah gak nemuin lagi kesakinahan, ke-mawaddahan dan kerohmahan dalam rumah tangga mereka, jadi daripada si Mbak sendiri berkutat dengan sakit hati dan kesedihan dia mutuskan cerai dan pergi jauh dari tempat dia tinggal tersebut.

Gua hanya bisa mengurut dada, dan tak henti2nya memohon pada Allah agar rumah tangga gua bersama suami gua dibangun selalu berdasarkan pondasi iman, sehingga penuh hidayah, selalu berkah, sakinah, mawaddah dan rohmah. Amin....

Kemelut Rumah Tangga (Perselingkuhan dalam Rumah Tangga)

1. Cemburu yang berlebihan
”Sesungguhnya diantara cemburu ada cemburu yang dibenci Allah, yaitu cemburu seorang kepada Suami/Isteri tanpa alasan” (H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An Nasa’i)

2. Tidak Menjaga Rahasia
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (Q.S. 2 : Al Baqarah : 187)

3. Terjadi Perbedaan Sudut Pandang
”Janganlah kamu saling marah, jangan saling benci, jangan saling acuh satu sama lain, tapi jadilah kamu satu saudara, tak halal bagi seorang muslim memusuhi saudaranya lebih dari tiga hari” (H.R. Muslim)

4. Perselingkuhan

a. Perselingkuhan Materi
– Tidak ada keterbukaan dalam mengelola keuangan keluarga-

b. Perselingkuhan Hati

Solusi Selingkuh Hati yang Salah (Isteri) :
· Berdo’a

· Bersikap baik pada suami
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Q.S. 41 : Fushshilat : 34-35)

· Berikhtiar mengendalikan emosi
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. 3 : Ali Imran : 133-134)

· Lakukan Interospeksi
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. 59 : Al Hasyr : 18)

· Konsultasikan dengan orang yang tepat
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Al Mujadilah : )

Solusi Selingkuh Hati yang Salah (Suami) :

· Harus Introspeksi diri
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. 59 : Al Hasyr : 18)

· Memberikan Nasehat
· Melibatkan orang lain (konsultasi) {Do’a}
· Talak {Do’a}

Kecenderungan Selingkuh Karena Sumai Lebih Muda
Sejak kematian putri diana pada 31 Agustus 1997, kata selingkuh menjadi sangat populer. Selingkuh berasal dari bahasa Jawa yang artinya perbuatan tidak jujur, sembunyi-sembunyi, atau menyembunyikan sesuatu yang bukan haknya. Dalam makna tersebut ada kandungan makna perbuatan serong. Dalam lafal sehari-hari selingkuh muncul secara nasional dalam bahasa Indonesia dengan makna khusus hubungan gelap atau tingkah laku serong orang yang sudah bersuami atau beristri dengan pasangan lain.

Selain kematian sang putri, perbuatan serong artis Indonesia dan dunia kerap mewarnai media massa, membuat kata selingkuh makin terkenal. Masyarakat tak asing lagi dengan kata ini. Selingkuh menjadi semacam virus pada sebuah pernikahan, dengan tudingan suami sebagai pihak yang paling sering berselingkuh Esai ini mencoba mengkaji perselingkuhan dengan memfokuskan pada usia suami; apakah usia suami, terutama suami yang lebih muda daripada istrinya berpengaruh dalam perselingkuhan.

Pernikahan yang Penting

Banyak orang menganggap pernikahan sebagai peristiwa yang paling penting dalam hidupnya, saat yang tak akan pernah dilupakan begitu saja. Setiap detil menuju pelaminan menjadi perhatian, menguras tenaga dan biaya. Demi menghadirkan sebuah pernikahan yang istimewa tak jarang kedua calon pengantin beserta keluarganya menghabiskan biaya dan tenaga sangat besar.

Pernikahan menjadi penting karena di sanalah terjadi penyatuan dua insan yang disyahkan oleh agama, pemerintah, dan masyarakat (wikipedia: 2007). Calon pengantin harus memenuhi hukum dan syarat agama dan pemerintah. Adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat setempat secara kuat ikut mengikat. Jika ada syarat dan hukum tidak terpenuhi, pernikahan akan cacat; secara agama mungkin syah, namun secara hukum tidak, begitu juga sebaliknya.

Hubungan seintim apapun antara laki-laki dan perempuan menjadi halal setelah pernikahan. Seorang istri berhak atas suaminya, seorang istripun demikian. Keduanya juga memiliki kewajiban satu sama lain. Bersama mereka saling memberi dan menerima; memenuhi kebutuhan yang tak bisa diperoleh pada bentuk ikatan lain, kecuali melalui pernikahan.

Pernikahan yang sehat dapat memberi rasa aman, memperpanjang usia, membuat kedua pasangan lebih sehat, meningkatkan rasa percaya diri, mampu menangkal stres dan membuat pasangan suami istri nampak awet muda. (Budiman, 2003). Dalam pernikahan kebutuhan biologis dan psikologis suami maupun istri terpenuhi, sehingga tak heran beberapa masalah yang kerap dihadapi pada masa lajang terpecahkan.

Tetapi, dalam pernikahan akan muncul juga masalah-masalah baru. Dua orang yang sejak kecil hidup dalam lingkungan sosial dan cara pengasuhan berbeda harus menyesuaikan diri satu sama lain. Keberhasilan kedua pihak mengatasi masalah-masalah kecil maupun besar tersebut akan mendewasakan keduanya, mengantar keduanya agar siap menempuh jenjang kedewasaan berikutnya.

Usia Pernikahan

Lelaki dan perempuan mempunyai kematangan biologis dan psikologis yang berbeda. Seorang anak perempuan mulai memasuki masa pubertas pada usia 10-11 tahun, ditandai dengan perubahan fisik seperti mengalami menstruasi, membsarnya dada dan pinggul, jaringan lemak cenderung berkembang. Sedangkan anak laki-laki mulai bermetamorfosa layaknya laki-laki dewasa pada usia 12-13 tahun. Suara anak laki-laki mulai pecah, tumbuh kumis, janggut, dan rambut di ketiak dan kemaluan, jaringan otot lebih berkembang merupakan sebagain kecil perubahan yang terjadi pada masa pubertas anak laki-laki.

Metabolisme tubuh anak perempuan mulai stabil pada usia 18 tahun sedangkan laki-laki pada usia 21 tahun. Pada masa ini baik laki-laki maupun perempuan secara biologis siap untuk bereproduksi dengan memasuki jenjang pernikahan. Perbedaan kematangan biologis inilah yang kemudian membuat usia pernikahan didominasi oleh lelaki yang berusia lebih tua daripada wanita atau calon istrinya.

Wikipedia (wikipedia.org, 2007) melansir usia rata-rata pernikahan pertama di beberapa negara. Di Indonesia, laki-laki umumnya menikah pada usia 25 tahun, sedangkan perempuan pada 22 tahun. Kisaran usia pernikahan pada 20-25 tahun dengan usia laki-laki yang lebih tua beberapa tahun juga terlihat pada beberapa negara asia seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, India, Bangladesh. Sedangkan negara-negara asia yang mengalami pertumbuhan industri dan ekonomi cukup pesat seperti Jepang, Korea, dan Cina, kisaran usia pernikahan meningkat: laki-laki, kebanyakan menikah pada usia 30 tahun sedangkan perempuan pada usia 28 tahun. Fenomena semakin tuanya usia pernikahan juga terlihat pada sebagian besar negara di Eropa dan Amerika. Pekerjaan, jenjang karier membuat banyak orang muda di negara-negara maju menunda usia pernikahannya. Setelah cukup mapan, mereka baru mengambil langkah untuk menikah.

Meskipun dalam pernikahan kebanyakan laki-laki berusia lebih tua daripada calon istrinya, beberapa kasus pernikahan memperlihatkan usia suami yang lebih muda daripada istrinya. Rentang usia bervariasi, mulai dari perbedaan usia 1-2 tahun sampai usia perempuan yang lebih tua 10 tahun hingga lebih daripada calon suaminya. Perbedaan usia yang mecolok tak menghalangi mereka menikah dan menjalani kehidupan layaknya pasangan usia pernikahan normal pada umunya.


Suami Lebih Muda

Banyak alasan kenapa laki-laki yang lebih muda menikahi perempuan yang lebih tua. Salah satunya karena sudah cinta setengah mati, tak bisa berpisah lagi. Si laki-laki sudah merasa sangat cocok dengan si perempuan. Ia tak mempermasalahkan usia yang penting bagaimana caranya agar segera bersanding dengan si perempuan. Pihak perempuanpun merasa tersanjung; ada lelaki muda ingin menjadi pasangan hidupnya. Ia rela berkorban, bahkan terkadang siap menjadi penanggung biaya pernikahan dan siap menghidupi suami untuk sementara.

Teori Mother Complex Jung juga bisa menjelaskan kenapa laki-laki muda mau menikah dengan perempuan yang lebih tua. Ada ciri fisik atau sifat-sifat ibu dalam diri calon istrinya. Kekaguman pada sang ibu membuat laki-laki tersebut menaruh harapan istrinya kelak akan menjadi sosok yang mirip dengan ibunya. Masalah dalam rumah tangga akan muncul bila harapan akan sosok ibu tersebut tidak muncul. Cepat atau lambat seorang suami harus menyadari bahwa seorang istri berbeda dengan ibu, tak bisa sama persis dengan sosok ibu yang diidamkannya.

Beberapa hambatan yang mungkin muncul pada pasangan dengan suami yang berusia lebih muda adalah:

  1. Anggapan Miring Masyarakat

Masyarakat Indonesia masih menilai: salah satu kriteria pernikahan ideal adalah pernikahan di mana usia istri lebih muda daripada suami. Jika tidak, pernikahan dengan laki-laki yang lebih muda bisa menjadi bahan obrolan, terutama pada masyarakat yang hubungan kekerabatan dan sosial masih kuat. Orang tua juga umumnya lebih mendukung anak laki-lakinya menikah dengan perempuan yang lebih muda. Orang tua khawatir pernikahan anak laki-lakinya kelak tak bahagia; sulit mendapatkan keturunan.

Pengaruh publikasi media akan makna kebahagiaan pernikahanpun turut mempengaruhi. Masyarakat lebih sering menyaksikan bahwa kisah cinta laki-laki yang lebih tua dengan perempuan muda berakhir bahagia. Misalnya film Pretty Woman yang berakhir ‘manis dan indah’ Sedangkan film Mrs. Robinson memberi gambaran pahitnya hubungan cinta jika perempuan lebih tua daripada pasangannya.

  1. Perbedaan Karakter Usia

Sebagian besar lelaki muda suka menghabiskan waktu luangnya dengan nongkrong di café atau tempat hiburan lainnya, berkumpul dengan teman-teman sebaya. Sedangkan perempuan yang lebih tua umumnya menyukai aktivitas yang lebih tenang; diam di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau menikmati waktu senggang di rumah, misalnya dengan membaca buku. Laki-laki yang lebih muda cenderung tidak menyukai aktivitas rumahan tersebut; bisa membuatnya bosan.

Dalam aktivitas seksual, laki-laki dengan rentang usia 25-35 berada di titik puncak. Jika perempuan yang lebih tua tidak bisa mengimbangi akan terjadi masalah yang dampaknya bisa merambah dalam segala aspek kehidupan berumah tangga. Seiring usia aktivitas seksual yang diinginkan perempuan cenderung menurun, sedangkan laki-laki bisa konstan, bahkan menginginkan lebih.

3. Persepsi Daya Tarik

Hambatan yang berbahaya adalah konsep diri sang istri. Menjelang masa menopause, seorang istri sering menganggap dirinya tidak menarik lagi. Kondisi fisik yang mulai menurun; merasa tua, sedangkan suami yang terlihat lebih muda. Anggapan yang menyatakan perempuan akan lebih cepat tua jika menikah dengan lelaki yang lebih muda seolah menjadi benar.

Rasa memiliki yang besar akan membuat istri cemburu buta bila melihat suaminya dekat dengan perempuan muda. Hembusan gosip dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab akan menambah panas suasana rumah tangga. Siaran dan berita media massa tentang perselingkuhan dan poligami dapat menambah kekhawatiran seorang istri.


Ancaman Selingkuh

Selingkuh bisa didefinisikan sebagai perbuatan seorang suami atau istri dalam bentuk menjalin hubungan dengan seseorang di luar ikatan pernikahan yang menyakiti, menghianati, melanggar kesepakatan, di luar komitmen pernikahan (Asya, 2000). Selingkuh yang ringan dapat berupa kencan atau menjalin hubungan asmara dengan melibatkan emosi mendalam. Tingkat selingkuh yang berat adalah melakukan hubungan seksual baik sekali maupun berkali-kali.

Purwanto (2003) dalam makalah Selingkuh; Abnormal yang dinikmati menguraikan beberapa penyebab selingkuh:

1. Faktor Utama

a. Predisposisi Kepribadian.

Sebagian orang memiliki gairah seks yang besar sehingga membutuhkan pemenuhan di luar standar orang biasa. Ia memerlukan variasi ketika melakukan kebutuhan seksual. Jika ia tidak mengomunikasikan keinginanya tersebut atau pasangan resmi tidak dapat memenuhi kebutuhan biologisnya, ia akan mencari kepuasan dari orang lain. Bentuknya mulai dari melampiaskan pada WTS atau PTS, memelihara pasangan tak resmi guna berhubungan seks atau menjalin hubungan mesra tanpa aktivitas seksual. Dan semua bentuk pelampiasan tersebut cenderung abnormal dan abnorma.

b. Desakralisasi Lembaga Perkawinan.

Ketika rumah tangga tak lagi dianggap sebagai lembaga sakral untuk mencapai kesenangan dan kebutuhan bersama, selingkuh menjadi hal biasa untuk dilakukan. Rumah tangga hanya rutinitas yang dilakoni sekedarnya saja. Bukan lagi sebagai sarana ibadah yang harus dipertanggung jawabkan pada Yang Kuasa. Lemahnya pemahaman agama akan semakin meruntuhkan lembaga perkawinan yang skaral tersebut.

c. Deidealisasi Lembaga Rumah Tangga.

Pernikahan kerap berawal dengan cita-cita yang sama dari dua insan; laki-laki dan perempuan Punya keturunan yang baik, materi yang cukup, masa depan yang bahagia adalah hal umum yang dicitakan dalam sebuah pernikahan. Setelah menjalani kehidupan rumah tangga, impian tersebut nyatanya tak mudah meraihnya. Jalan buntu, sikap pesimis dan rasa putus asa pasangan suami istri dalam menghadapi masalah rumah tangga membuat keduanya melupakan mimpi dan berusaha merangkai cita-cita baru dengan orang lain; berharap impiannya tercapai dengan orang lain.

d. Dekadensi Moral.

Rumah tangga adalah lembaga moral terbesar dalam masyarakat, sebuah universitas kehidupan bagi seorang laki-laki untuk menjadi suami dan ayah, sekolah tak kenal lelah bagi perempuan sebagai istri dan ibu. Berbagai ilmu rumah tangga akan didapat dengan cara coba dan koreksi. Ketika seseorang tidak lagi menyadari fungsi rumah tangga sebagai lembaga moral terbesar, ia akan jatuh dalam perilaku amoral. Salah satunya dengan cara selingkuh.

2. Faktor Pendukung

a. Fasilitasi Sosial.

Lemahnya institusi masyarakat dalam mengatasi masalah moral sosial dan hukum seperti selingkuh akan mendukung perilaku selingkuh. Tak ada tindakan tegas dari lingkungan bagi individu yang jelas-jelas melakukan selingkuh. Sifat individualistis; merasa bukan urusan saya, mempermudah seseorang untuk berselingkuh. Sikap permisivitas masyarakat memfasilitasi kebejatan moral atau memperbolehkan selingkuh. Tak ada yang berani mengambil tindakan terlebih bila pelaku selingkuh adalah orang-orang yang secara sosial berada di srata tinggi.

b. Ketersediaan Kelompok secara Sosial.

Beberapa orang mengaggap selingkuh adalah selingan ringan asal keluarga utuh. Tak masalah berselingkuh selama keluarga baik-baik saja. Mereka berkumpul, tahu sama tahu dan membentuk semacam komunitas perselingkuhan. Dalam komunitas tersebut selingkuh bisa dianggap sebagai prestasi keperkasaan atau keseksian. Bangga bila menggaet daun muda, menjerat suami orang, menaklukkan si bos. Komunitas ini subur bersemi di lingkungan kerja yang membebaskan interaksi laki-laki-perempuan sesukanya (Purwanto, 1999)

c. Lemahnya Sangsi Sosial dan Hukum.

Sejauh ini tidak ada tindakan tegas secara sosial maupun hukum bagi pelaku selingkuh. Seseorang yang maling ayam akan dijatuhi hukuman kurung, juga sangsi sosial yang kejam dari masyarakat. Sedangkan untuk kasus perselingkuhan, masyarakat terkesan mudah memaafkan. Padahal dari kacamata agama perbuatan selingkuh sudah terlalu jauh dan sangat fatal. Sedikit sekali kasus selingkuh diproses menjadi kasus hukum

d. Media Massa.

Seseorang bisa mendapatkan ide untuk berselingkuh dari novel, lagu, sinetron, dan film. Lagu Teman tapi mesra yang dipopulerkan oleh Ratu sangat jelas menganjurkan untuk selingkuh. Teori selingkuh bertebaran di mana-mana, tinggal memungut dan mempraktekkannya. Perilaku selingkuh para artis yang berkecimpung di dunia musik, film dan sinetron membuat selingkuh menjadi hal yang biasa, membuat orang beranggapan selingkuh tak ada salahnya jika dicoba. Dan seburuk apapaun perlaku selingkuh oarng terkenal mereka tetap dipuja, Putri Diana contohnya.

e. Era hedonisme.

Globalisasi membuat semua hal terkesan boleh dan bisa. Selama keluarga di rumah aman dan tentran, ekonomi keluarga tak terganggu, apa salahnya selingkuh. Yang penting hati senang, puas. Beberapa orang memang mencaci tapi banyak juga yang memuji selingkuh sebagai prestasi, bisa menaikkan gengsi. Kesenangan individu menduduki hirarki tertinggi karena kebutuhan yang sifatnya biologis dan psikologia untuk keluarga sudah dipenuhi.


3. Faktor Pemicu lain

Ketidakmampuan memelihara pandangan, pendengaran dan pikiran tentang hasrat seksual bisa ikut memicu terjadinya perselingkuhan. Obrolan dan candaan yang berbau pornografi, senang menonton porno bersama rekan atau teman dekat menimbulkan inspirasi untuk melakukan aktivitas seksual tertentu. Hal tersebut makin diperburuk dengan banyaknya gadis cantik berpakaian minim atau lelaki tampan yang menggoda di lingkungan sekitar. Hasrat yang semakin kuat ini apabila tak tersalurkan dengan pasangan resmi maka selingkun seolah jadi alternatif pemecahan masalah. Awalnya hanya coba-coba, merasa asyik; sulit menghentikan, jadilah selingkuh yang berkelanjutan.

Media pornografi dan pornoaksi juga mudah dan murah diperoleh. VCD atau DVD film porno bajakan, bacaan-bacaan dan foto yang merangsang hasrat seksual seperti kacang kulit di pinggir jalan. Dan internet menjadi multi media yang paling atraktif dalam menyuguhkan pornografi dan pornoaksi. Bagi orang-orang yang mempunya hasrat seks cukup tinggi atau mudah terangsang, stimulan tersebut akan mendorongnya untuk mencari pelampiasan segera, bukan dengan pasangan resminya.

Kecanggihan teknologi di bidang lain seperti dalam dunia kesehatan turut mendukung perselingkuhan. Penelitian Kainuna (2001) mengindikasikan bahwa teknologi kehamilan memberikan 70% kontribusi pada keberanian seseorang untuk melakukan seks bebas dengan rasa aman dari kehamilan. Seorang perempuan tak begitu mencemaskan kehamilan yang tak diinginkan lagi. Cukup dengan pil anti hamil, kemungkinna hamil bisa ditekan seminimal mungkin.


Bahagia Bukan Karena Usia

Usia pasangan suami istri tak begitu menunjukkan keterkaitan dengan perselingkuhan. Banyak faktor lain yang dominan daripada usia suami yang lebih muda. Benang merah dari sebab perselingkuhan adalah komitmen; terhadap pasangan, sosial masyarakat dan kepada Yang Kuasa.

Pasangan suami istri sebelum menikah sudah berkomitmen untuk saling setia satu sama lain. Keduanya harus memegang teguh komitmen tersebut agar tegar menghadapi badai kehidupan. Seorang perempuan yang menikah dengan lelaki yang lebih muda sudah meyakini: usia suami yang lebih tua bukan jaminan untuk membina sebuah rumah tangga nan nyaman, damai dan menentramkan. Suamipun sudah berkomitmen: usia bukan masalah untuk mereguk bahagia.

Ketika keduanya telang menghitung baik-buruk dan risiko pernikahan dan merencanakan pemecahan masalah di tangan, tak ada alasan untuk menunda pernikahan. Usia tua seringkali kurang bisa menggambarkan pemikiran dan kematangan psikologis guna menjalankan roda rumah tangga. Banyak lelaki yang lebih muda bersikap dewasa dan mampu menjadi pemimpin bagi istrinya. Banyak lelaki usia tua punya sifat kekanak- kanakan. Tak sedikit lelaki lebih muda mempunyai sifat lebih dewasa dapat membuat perempuan nyaman di dekatnya.


Daftar Pustaka :

  • Budiman, Herjani (2003). Komunikasi Psikologis dalam Hubungan Seksual dengan Pasangannya, Rumah Sakit HUSADA Jakarta

  • Biddulph, Steve (2005) Raising Boy, Gramedia, Jakarta.

  • L, Zulkifli (1986) Psikologi Perkembangan, Remaja Rosdakarya, Bandung.

  • Majalah Lisa. Pria Yang Jauh dari Istrinya Cenderung Selingkuh, Februari 2003

  • Majalah Qiblati. Data Selingkuh di Indonesia, edisi 06 tahun II, Maret 2007

  • Marzuki Umar Sa’abah, Seks dan Kita, Gema Insani Press, Jakarta 1998

  • Purwanto, Yadi. Selingkuh: Abnormal yang dinikmati, e-classified. http://www.psikologiums.net

  • Ridha, Dr. Akram (2005), Puber Tanpa Masalah, Pustaka Hidayah, Bandung.

  • Widyarini, Nilam. Untuk Apa Menikah? Tabloid Senior, 7 Sep 2007

  • Wikipedia. Age at first marriage, http://www.wikipedia.org

  • Wikipedia. Marriage, http://www.wikipedia.org

  • Yerianto. Selingkuh? Please deh, Kompas 28 Januari 2005


Selingkuh Duduki Peringkat Pertama
Pemicu Terjadinya Perceraian

TANJUNG REDEB. Sejauh ini sebanyak 43 kasus talak serta 135 Ta'lik talak yang ditanggani Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Berau lebih didominasi oleh kasus munculnya pihak ke 3. Artinya adanya orang ke 3 dalam hubungan rumah tangga menempati posisi teratas kasus perceraian di Bumi Batiwakkal.

Sementara Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menempati urutan kedua. Sepanjang tahun 2007 kemarin setidaknya PA Tanjung Redeb menerima sebanyak 178 pengesahan talak, dari 178 kasus tersebut 135 merupakan gugatan dari pihak wanita.

"Dan dari laporan tersebut hanya tersisa beberapa kasus yang belum selesai sampai saat ini ," jelas Drs Kaspul A Panitera Muda Hukum PA Tanjung Redeb. Adapun tambahnya dugaan selingkuh menjadi factor terbesar perceraian yang terjadi, dugaan yang dimaksud meliputi temuan selingkuh langsung oleh pihak pasangan, gossip hingga SMS oleh pasangan selingkuh. "Kasus selingkuh lebih banyak menjadi pemicu gugatan cerai yang kami terima, dan kebanyakan dari pihak wanita disusul karena factor ekonomi, tidak ada tanggung jawab terhadap keluarga dan perbedaaan agama," ujar Kaspul lagi.

Namun demikian menurutnya menanggapi masalah tersebut pihak Pengadilan Agama (PA) tidak serta merta mengabulkan setiap gugatan yang di lontarkan pihak pelapor, sesuai dengan ketentuan undang undang yang menjadi acuan PA setiap laporan harus melalui proses pengkajian yang dalam, dan selanjutnya masih diberikan pengarahan dan tenggang waktu untuk berdamai.

Untuk tahun 2007 pengadilan agama Berau menerima 135 Talik talak, 43 persetujuan talak pengesahan nikah sebanyak 2 akta dan 1 pergantian wali. Sedangkan diawal tahun 2008 untuk bulan Januari pihaknya sudah menerima 30 laporan dan Februari sebanyak 20 serta 8 permohonan untuk Maret. Untuk itu Kaspul menghimbau kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan komunikasi dalam rumah tangga untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan oleh pasangan suami istri. "Untuk setiap permasalahan bukan tidak ada solusinya dan bukan perceraian menjadi penyelesaiannya, dilihat dari sudut pandang sosial pernikahan merupakan sebuah ikatan yang sakral, sementara perceraian adalah sesuatu yang sangat dibenci Tuhan. Untuk itu sebelum perceraian terjadi sebaiknya hal tersebut harus diperhitungkan secara seksama," tandas Kaspul. (sep)


KEUTUHAN RUMAHTANGGA
Bila Peselingkuh Ketahuan


Sabtu, 24 Maret 2007
Selingkuh kini sudah menjadi tren baru di kalangan masyarakat. Entah dari mana asal mulanya, selingkuh tiba-tiba dianggap bumbu lain berumah tangga, indah dan merupakan sesuatu yang disahkan. Lebih dari itu, mudah dilakukan. Betul tidak?
Banyak tema lagu selingkuh yang kerap kita dengar, sebut saja Teman Tapi Mesra (Ratu), Jadikan Aku yang Kedua (Astrid), maupun band-band lain yang sering kita dengar.
Namun bagaimana agar selingkuh tidak ketahuan oleh pasangan? Bagaimana menyelamatkan hubungan rumah tangga yang dilandasi oleh perselingkuhan serta menghindarkan balas dendam pasangan yang selingkuh?
Para peselingkuh hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini guna menghindari ketangkap tangan saat berselingkuh.
1. Perhatikan rambu-rambu selingkuh. Jangan meninggalkan jejak yang nantinya gampang diketahui pasangan. Misalkan, bersihkan semua pesan dalam inbox maupun outbox di telepon genggam Anda saat ketemu. Jangan pernah meninggalkan tanda apa pun di baju, celana, apalagi di badan sendiri. Dan juga tidak boleh menerima atau memajang barang apa pun yang akan mengundang kecurigaan. Misalnya saja, dapat boneka atau miniatur F1, segera saja simpan di lemari.
2. Jangan memberikan nomor telepon yang sama kepada pasangan dan selingkuhan. Kalau bisa, punya beberapa nomor telepon. Kalau tidak ada, manfaatkan kartu perdana murah, atau dengan alasan lain, "Maaf handphone-ku dipinjam teman."
3. Rahasiakan alamat rumah dari selingkuhan. Umumnya selingkuhan sering nekat datang ke rumah jika tidak dihubungi dalam jangka beberapa waktu lamanya.
4. Berikan keterangan palsu yang menaikkan derajat, harkat, dan martabat. Misalnya saja, "Ini mobilku", padahal sepeda motor saja pinjaman. Jadi, jika ketemu di jalan, selingkuhan tidak akan tahu dan menyapa jika kita bersama pasangan.
5. Jangan banyak bicara tentang hal-hal baru yang mungkin akan menjebak Anda. Contohnya, saat pasangan membahas tentang cerita film baru, biasanya kita tidak mau kalah dengan menjawab, "Oh iya, ceritanya bla.. bla..bla.."
6. Sesuaikan jadwal kencan. Bila perlu seperti kursus, Senin-Kamis, Selasa-Jumat, dan lain-lain. Bila memungkinkan, berilah satu hari ekstra untuk diri sendiri. Jadi seumpama pasangan mulai curiga, Anda bisa membuktikannya di satu hari luang itu. Yang paling penting, buat rencana dengan bersela-sela, jangan monoton.
7. Koleksilah beberapa parfum, khususnya parfum yang sama dengan milik selingkuhan atau pasangan. Simpanlah di botol-botol kecil sehingga bisa disemprotkan kapan saja, tanpa meninggalkan aroma lain. Jika memungkinkan, bawalah baju cadangan jika ingin bertemu pacar dan selingkuhan dalam waktu yang hampir sama.
8. Jangan pernah menjanjikan apa-apa kepada selingkuhan, baik materi, janji menikahi maupun kata-kata indah.

Jika Ketahuan

Bagaimana jika perselingkuhan Anda diketahui? Segeralah minta maaf kepada pasangan, dan berharaplah kasus Dea Mirella dan Nia Daniaty bisa terulang dalam keluarga Anda.
Memaafkan suami atau istri setelah badai perkawinan, menurut konsultan perkawinan Dra Clara Istiwidarum, MA, dari Jagadnita Consulting, bukanlah sesuatu hal yang tak mungkin dilakukan asalkan ada upaya dari kedua belah pihak.
"Ketika suami yang selingkuh mau meminta maaf itu artinya ia masih mencintai istrinya dan mengganggap perkawinannya yang paling ia dambakan. Selain itu berarti mereka masih memiliki visi bersama yang kuat," ujarnya. Kendati begitu, menurut Clara permintaan maaf tadi harus diiringi dengan perubahan sikap secara total.
Perubahan sikap yang ideal dari suami yang berkhianat adalah berhenti berhubungan dengan wanita lain saat itu juga, memperbaiki pola komunikasi suami istri, dan membicarakan mengapa bisa sampai terjadi perselingkuhan. "Bicarakan dengan terbuka mengapa ini terjadi, lalu apa yang diharapkan masing-masing dari pasangan dan ke depannya mau bagaimana," kata Clara.
Agar komunikasi tersebut berhasil, Clara menyarankan agar pasangan meminta bantuan pihak ketiga yang netral dan profesional, dalam hal ini konsultan perkawinan. "Boleh saja dibicarakan berdua, asalkan keduanya cukup dewasa dalam menyikapi masalah ini,"tambahnya.
Komitmen Memaafkan

Mengucapkan kata maaf memang mudah, tapi bagaimanakah agar maaf tadi bukan sekadar ucapan di bibir? Jika istri sudah mau memaafkan maka konsekuensinya adalah fokus pada memaafkannya. Artinya jangan terus mengungkit-ungkit masalah, bahkan ingin tahu segala hal tentang perselingkuhan suami," jelas Clara.
Sikap istri yang terus mengungkit kesalahan, bahkan berusaha mengorek informasi dari berbagai pihak tentang perselingkuhan yang sudah dilakukan suami, sebenarnya tidak akan bermanfaat, malahan hanya membangkitkan luka.
"Orang yang memaafkan harus punya usaha keras untuk janji tidak mengungkit dan tidak memikirkan. Bukannya melupakan," papar Clara. Karenanya, daripada mengungkit masa lalu, sebaiknya istri lebih memikirkan rencana ke depan dan mencari cara untuk menghindari kesalahan yang sama.
"Si istri sebaiknya membereskan dulu perasaannya karena usaha untuk rujuk pasti akan kalah dengan rasa sakit hati yang besar," tuturnya.
Dalam persepsi Clara, perselingkuhan yang dilakukan suami, sedikit banyak juga dipengaruhi istri, sehingga turut berperan membuat suami tertarik pada rumput tetangga. Karenanya ia menyarankan agar istri juga menyadari bahwa setiap orang memiliki kelemahan. Dengan menyadari kekurangan yang kita miliki, kita akan lebih tulus ketika memaafkan orang lain.
"Kalau kita masih merasa kita yang paling baik, yang paling berjasa, tentunya akan sulit membangun kepercayaan lagi. Tapi kalau kita membuka diri, menerima dia apa adanya dan menerima diri apa adanya, yakni kita punya kelebihan dan kekurangan, itu akan membantu kita memahami, memaklumi dan memaafkan pasangan," katanya.
Selain itu, agar hubungan suami istri kembali sehat, sebaiknya keduanya memiliki persamaan kedudukan dalam rumah tangga. "Jangan ada yang lebih dominan atau jangan ada yang merasa menjadi korban. Dalam masalah ini, kedua pasangan ini harus sama-sama berusaha memperbaiki diri dan memperjuangkan visi bersama," imbuhnya.
Nah, agar tujuan yang diharapkan tercapai dan perkawinan yang sakral bisa dipertahankan, suami juga harus menunjukkan komitmennya tidak hanya lewat ucapan penyesalan, tetapi juga mewujudkannya dalam bentuk perhatian dan tindakan. (berbagai sumber/Adi)





Tidak ada komentar: